Senin, 18 Januari 2021

Tokoh-tokoh Ahlussunnahwaljama'ah

 


1. Bidang Aqidah

a. Imam Abu Hasan Al Asyari

Nama lengkap dari Imam Al- Asy’ari adalah Abul Hasan Al-Asyari. Sedikit cuplikan mengenai biografi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, beliau lahir di Bashrah, pada 260 Hijriah bertepatan dengan 873 Masehi. Terdapat suatu golongan bernama “Golongan Al-Asy’ariyyah” yang merupakan sebuah pergerakan pemikiran pemurnian akidah yang dinisbatkan kepada Imam Abul Hasan Al- Asy’ari. Imam Al-Asy’ari dikenal dengan kecerdasannya. Pada mulanya Imam Al- Asy’ari adalah penganut paham Mu’tazilah yang mana disebabkan karena ayah tirinya merupakan tokoh dan guru dari kalangan Mu’tazilah, Al-Jubbai. berjalanya waktu, Imam Al-Asy’ari mengalami beberapa gejolak batin akan paham yang dianutnya yakni paham Mu’tazilah, sehingga sempat terjadi perdebatan antara Imam Al-Asyari dengan gurunya yakni Al-Jubbai yang menjurus kepada sifat-sifat Allah SWT dalam bidang akidah 

 b.) Imam Abu Mansyur Al Maturidi

Tokoh kita satu ini selalu disandingkan dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari sebagai dua tokoh besar manhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Memang benar, rekam jejak kehidupannya tak banyak diulas oleh para sejarawan terkenal seperti Ibnu Katsir, Ibnu Khalkan, Ibnu Nadim, dan Ibnu Atsir dalam catatan-catatan sejarah mereka. Akan tetapi, seluruh kehebatan murid-muridnya serta karya tulisnya telah menunjukkan kepada kita betapa hebatnya tokoh kita satu ini. Tak ayal, para pengikutnya menjuluki tokoh kita ini dengan julukan Rais Ahlussunnah (pemimpin golongan Ahlussunnah), al-Imam al-Zahid (pemimpin yang zuhud), dan beberapa julukan lainnya.Abu Manshur al-Maturidi dilahirkan di desa Matrid, sebuah desa di daerah Samarkand yang sekarang termasuk bagian dari negara Uzbekistan. Mengenai tahun kelahirannya, Dr. Muhammad Ayyub menyatakan Abu Manshur al-Maturidi lahir sekitar sebelum tahun 238 H. Ia hidup di zaman kemajuan daerah Asia Tengah sebagai pusat peradaban Islam. Di antara ulama besar yang sezaman dan berasal dari satu daerah dengan beliau adalah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari (w. 256 H) dan Muslim bin Hajjaj an-Naisabur (w. 261 H). (Lihat tesis doktoral Dr. Muhammad Ayyub di Universitas Dar al-Ulum, Kairo berjudul al-Islam wal Imam al-Maturidi).

2. Bidang Syariah (fiqih)

a.) Imam Abu Hanifah

DinamakanHanafi, karena pendirinya Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit. Beliau lahir pada tahun 80 H di Kufah dan wafat pada tahun 150 H. Madzhab ini dikenal madzhab Ahli Qiyas (akal) karena hadits yang sampai ke Irak sedikit, sehingga beliau banyak mempergunakan Qiyas.

Beliau termasuk ulama yang cerdas, pengasih dan ahli tahajud dan fasih membaca Al-Qur’an. Beliau ditawari untuk menjadi hakim pada zaman bani Umayyah yang terakhir, tetapi beliau menolak. Madzhab ini berkembang karena menjadi madzhab pemerintah pada saat Khalifah Harun Al-Rasyid. Kemudian pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur beliau diminta kembali untuk menjadi Hakim tetapi beliau menolak, dan memilih hidup berdagang, madzhab ini lahir di Kufah.

b.) Madzhab Maliki 

Pendirinya adalah Al-Imam Maliki bin Anas Al-Ashbahy. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H dan wafat pada tahun 179 H. Beliau sebagai ahli hadits di Madinah dimana Rasulullah SAW hidup di kota tersebut. Madzhab ini dikenal dengan madzhab Ahli Hadits, bahkan beliau mengutamakan perbuatan ahli Madinah daripada Khabaril Wahid (Hadits yang diriwayatkan oleh perorangan). Karena bagi beliau mustahil ahli Madinah akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan perbuatan Rasul, beliau lebih banyak menitikberatkan kepada hadits, karena menurut beliau perbuatan ahli Madinah termasuk hadits mutawatir. Madzhab ini lahir di Madinah kemudian berkembang ke negara lain khususnya Maroko. Beliau sangat hormat kepada Rasulullah dan cinta, sehingga beliau tidak pernah naik unta di kota Madinah karena hormat kepada makam Rasul. Madzhab Syafi’i.

Tokoh utamanya adalah Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Quraisyi. Beliau dilahirkan di Ghuzzah pada tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H. Beliau belajar kepada Imam Malik yang dikenal dengan madzhabul hadits, kemudian beliau pergi ke Irak dan belajar dari ulama Irak yang dikenal sebagai madzhabul qiyas. Beliau berikhtiar menyatukan madzhab terpadu yaitu madzhab hadits dan madzhab qiyas. Itulah keistimewaan madzhab Syafi’i. Di antara kelebihan asy-Syafi’i adalah beliau hafal Al-Qur’an umur 7 tahun, pandai diskusi dan selalu menonjol. Madzhab ini lahir di Mesir kemudian berkembang ke negeri-negeri lain.

c.) Madzhab Syafi’i

Tokoh  utamanya adalah Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Quraisyi. Beliau dilahirkan di Ghuzzah pada tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H. Beliau belajar kepada Imam Malik yang dikenal dengan madzhabul hadits, kemudian beliau pergi ke Irak dan belajar dari ulama Irak yang dikenal sebagai madzhabul qiyas. Beliau berikhtiar menyatukan madzhab terpadu yaitu madzhab hadits dan madzhab qiyas. Itulah keistimewaan madzhab Syafi’i. Di antara kelebihan asy-Syafi’i adalah beliau hafal Al-Qur’an umur 7 tahun, pandai diskusi dan selalu menonjol. Madzhab ini lahir di Mesir kemudian berkembang ke negeri-negeri lain 

d.) Imam Hanbali

Dinamakan Hanbali, karena pendirinya Al-Imam Ahmad bin Hanbal As-Syaebani, lahir di Baghdad Th 164 H dan wafat Th 248 H. Beliau adalah murid Imam Syafi’i yang paling istimewa dan tidak ppernah pisah sampai Imam Syafi’i pergi ke Mesir. Menurut beliau hadits dla’if dapat dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan yang afdal (fadlailul a'mal) bukan untuk menentukan hukum. Beliau tidak mengaku adanya Ijma’ setelah sahabat karena ulama sangat banyak dan tersebar luas.

3.Bidang tasawuf (Akhlaq)

a.) Madzhab Imam Junaidi Al Bagdadi

Syaikh Abul Qasim Junayd al-Baghdadi adalah seorang ulama sufi dan wali Allah yang paling menonjol namanya di kalangan ahli-ahli sufi. Tahun kelahiran Imam Junaid tidak dapat dipastikan.Tidak banyak dapat ditemui tahun kelahiran beliau pada biografi lainnya. Beliau adalah orang yang terawal menyusun dan memperbahaskan tentang ilmu tasawuf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasawuf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi. Kehidupan tasawuf yang dilakukan seseorang merupakan jalan penyucian hati dan jalan kekhusyukan untuk mengingat Dia. Berhubungan dengan kekhusyukan, Syaikh Junayd al-Baghdadi juga mengatakan,“Tuhan menyucikan ‘hati’ seseorang menurut kadar kekhusyuknya dalam mengingat Dia.”Sejak kecil, Imam Junayd terkenal sebagai orang yang cerdas, sehingga sangat mudah dan cepat belajar ilmu-ilmu agama dari pamannya. Karena kecerdasannya itu, ketika berumur tujuh tahun, Imam Junayd telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan tentang makna syukur. Dengan tenang dan tangkas, ia menjawab pertanyaan tersebut, "Jangan sampai Anda berbuat maksiat dengan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.” Itulah jawaban yang singkat dari Imam Junayd. Kehidupan Imam Junayd al-Baghdadi,di samping sebagai sufi yang senantiasa mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, ia juga sebagai pedagang yang meneruskan usaha ayahnya, yaitu sebagai pedagang barang pecah-belah di pasar tradisional. Selesai berdagang, beliau ke rumah dan mampu mengerjakan shalat dalam waktu sehari semalam sebanyak empat ratus raka'at.Disamping itu, Imam Junayd memiliki sifat tegas dalam pendirian. Itu terlihat ketika ia menandatangani surat kuasa untuk menghukum mati muridnya sendiri, Husayn ibn Mansur al-Hallaj (w. 309 H/922 M), sufi pencetus konsep Hulul. Dalam surat kuasa itu, ia menulis dengan tegas, “Berdasarkan syari'at, ia (al-Hallaj) bersalah, tetapi menurut hakikat, Allah Yang Maha Mengetahui.

b.) Imam Al-Ghazali

Beliau memiliki nama lengkap Imam Abu Hamid Al-Ghazali Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Ath-Thusiy. Al-Ghazali lahir di Thus, Khurasan pada tahun 450 H dan menyandang gelar Zainuddin (hiasan agama).

Beliau hidup dengan sang ayah yang bekerja sebagai penenun wol yang dijual di daerah Thus. Menjelang kematian sang ayah, Al-Ghazali beserta saudaranya yang bernama Ahmad mereka dititipkan kepada seorang sufi ahli dalam kebaikan. Beliau berwasiat agar mereka diajarkan berbai macam ilmu yang telah beliau lewatkan. Seperti belajar menulis arab.

Setelah ayah Al-Ghazali meninggal, perjalanan belajar mereka dimulai. Pada awalnya sesuai wasiat sang ayah, mereka berdua diajari oleh sang sufi. Namun, setelah harta yang ditinggalkan sang ayah habis, sang sufi menyarankan agar mereka bersekolah secara formal. Saat bersekolah selain mendapat ilmu yang lebih baik, di sana juga akan mendapatkan makanan sesuai kebutuhan mereka. Akhirnya merekapun melakukan anjuran tersebut.

Imam Al-Ghazali kecil adalah seorang anak yang gemar belajar. Pada waktu itu, ia mempelajari ilmu fikih di Thus kepada Ahmad R-Radzkani. Setelah itu, ia mengembara ke jurjan belajar kepada Imam Abu Nashr Al-Isma'ily. Dirinya selalu mendengarkan dengan seksama serta mencatat semua yang didapatkan. Terkadang dirinya juga memberikan komentar-komentar dan berpendapat, lalu kembali lagi ke Thus.

setelah tiga tahun lamanya ia menyibukkan diri di Thus untuk menghafalkan catatannya, Al-Ghazali kemudian datang ke Naisabur. Ia berguru kepada Imam Al-Haramain, yaitu Abu AL-Ma'ali Al-Juwaini (419-478 H). Dirinya sangat bersungguh-sungguh hingga mazhab Imam Syafi'i , fikih ikhtilaf, ilmu perdebatan, ilmu usul, juga mantiq dapat ia kuasai.

 dari setiap bidang keilmuan sangat banyak yang telah ia tulis. Cerdas, berfikiran tajam, berkarakter menakjubkan, berwawasan luas, ingatan kuat, ilmu yang teruji, menguasai berbagai ilmu dengan sangat mendalam adalah kelebihan Imam Al-Ghazali. Sang guru mengibaratkan Al-Ghazali bagai laut yang tak bertepi.

Al-Ghazali menetap di Naisabur sampai Imam Al-Haramain meninggal pada 478 H. Setelahnya Al-Ghazali menemui mentri Nizham Al-Mulk.[1] Pada saat itu Al-Ghazali menghadapi permasalahn dengan para imam dan ulama yang memusuhinya. Namun, dirinya memenangkan permasalahn itu, perkataanya dapat membungkam seluruh ulama sehingga mengakui kecerdasan Al-Ghazali. Namanyapun kemudian menyebar diberbagai penjuru.

Saat ia diangkat menjadi guru besar di madrasah Nizham Al-Mulk, ia menetap di sana hingga tahun 484 H. Setelah itu dirinya berangkat menuju irak untuk melaksanakan tugas penting.

Al-Ghazali datang ke baghdad saat berumur 34 tahun. Ia mendapat sambutan sangt besar dan meriah. Ia menjadi guru di madrasah Nizhamiyah. Dirinya membuat penduduk sekitar takjub dan segan.

Beberapa lama kemudian, Al-Ghazali kembali ke kampung halamannya di Thus. Banyak hal yang menyibukkan. Ia mendirikan sekolah, mengkhatamkan Al-Quran, berkumpul dengan para ilmuwan, mengajar dan lain-lain. Dirinya tak pernah lepas dari kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.  

DAFTAR PUSTAKA

https://tebuireng.online/kecerdasan-imam-abu-al-hasan-al-asyari/?amp

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/121064/abu-manshur-al-maturidi--imam-aqidah-ahlusunnah-wal-jama-ah

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/10336/4-madzhab-dalam-ilmu-fiqih

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/10336/4-madzhab-dalam-ilmu-fiqih

https://www.laduni.id/post/read/44936/riwayat-imam-junaid-al-baghdadi

https://www.kompasiana.com/halizapat24offc/5e85502f097f360aca50caa2/biografi-imam-al-ghazali-bapak-filsafat-islam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sejarah Munculnya Aliran Syi'ah dan Mu'tazilah

  Sejarah Munculnya Aliran Syi’ah Menurut bahasa berarti pengikut/penolong. Untuk sekelompok manusia yang bersatu dalam masalah, dan untuk s...